Dahulu setiap calon pengantin ada kewajiban menjalani laku spiritual. Di antaranya dengan berpuasa, tujuan agar apa yang akan dijalani nanti senantiasa “mendapat restu”. Supaya tujuan untuk membina rumah tangga bisa bertahan lama, langgeng seumur hidup.
Dahulu kewajiban seperti itu pernah dilakukan oleh kakek moyang kita bangsa Indonesia khususnya yang ada di Jawa, memang sepantasnya warisan leluhur kita ini diterapkan oleh penerusnya. Namun, jika tidak mampu sebaiknya jangan dipaksakan. Kalau dipaksakan malah akan menggangu prosesi nanti, misalkan jatuh sakit.
Pada zaman yang semakin maju dan modern, kebiasaan itu hampir terlupakan. Menurut Ibu Wahyu Akhirul” kita (wanita) sebaiknya tidak boleh melupakan adat istiadat ‘warisan leluhur’ yang keberadaannya telah diakui secara tutrun temurun. Termasuk, melakukan laku ritual (puasa) menjelang resepsi pernikahan.
Tetapi kalaupun tidak dilakukan, juga tidak ada salahnya. Hal ini mungkin akibat terdesaknya kultur yang harus dipertahankan, sehingga lambat laun memaksa hal tersebut terlupakan.“Sebab sepengetahuan saya, sepertinya tidak ada aturan resmi tentang kewajiban meneruskan warisan leluhur itu,” ujarnya. “Yang penting kita tidak pernah lupa pada Zat yang telah menciptakan kita, Zat yang Maha Esa, Allah SWT. Karena Dialah Zat yang maha kuasa atas segala sesuatu. Kita pasrahkan semuanya kepada-Nya, laku spiritual rahasia kita masing-masing sesuai dengan niatan kita. Jangan melakukan laku ritual dengan tujuan atau niatan pada hari H resepsi wajah pengantin tampil beda atau pangling.“Pangling tidaknya riasan pengantin terletak pada kemahiran dan keahlian perias dalam melihat dan menganalisa bentuk wajah pengantin.” pungkas Ibu Wahyu .
Ibu Wahyu Akhirul Adha, SE membuka konsultasi gratis untuk persiapan acara pernikahan anda di telepon 031-8281864, 71552093, facimile:8289135 bisa SMS HP. 0815 5040 964. Kami bantu dengan senang hati.
informasi calon manten yang bagus bu
BalasHapus